Hipertensi pada Kehamilan

Jenis-jenis hipertensi pada kehamilan antara lain:

  1. Hipertensi kronis. Didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik 140 mmHg atau lebih, dan diastolik  90 mmHg atau lebih, baik sebelum dimulainya kehamilan ataupun saat mulai kehamilan (sebelum 20 minggu)
  2. Hipertensi gestasional. Merupakan hipertensi yang terjadi setelah kehamilan berusia 20 minggu.
  3. Preeklampsia/ Eklampsia. Merupakan hipertensi pada kehamilan yang disertai dengan proteinuria dan/atau oedem.
  4. Preeklampsia/ Eklampsia yang disertai dengan hipertensi kronis.
Iklan

Etiologi Preeklampsia/ Eklampsia

Sampai dengan saat ini etiologi pasti dari preeklampsia/ eklampsi masih belum diketahui.
Ada beberapa teori mencoba menjelaskan perkiraan etiologi dari kelainan tersebut di atas, sehingga kelainan ini sering dikenal sebagai the diseases of theory. Adapun teori-teori tersebut antara lain:

  1. Peran Prostasiklin dan Tromboksan
    Pada PE-E didapatkan kerusakan pada endotel vaskuler, sehingga terjadi penurunan produksi prostasiklin (PGI 2) yang pada kehamilan normal meningkat, aktivasi penggumpalan dan fibrinolisis, yang kemudian akan diganti trombin dan plasmin. Trombin akan mengkonsumsi antitrombin III, sehingga terjadi deposit fibrin. Aktivasi trombosit menyebabkan pelepasan tromboksan (TXA2) dan serotonin, sehingga terjadi vasos-pasme dan kerusakan endotel.
  2. Peran Faktor Imunologis
    Preeklampsia sering terjadi pada kehamilan pertama dan tidak timbul lagi pada kehamilan berikutnya. Hal ini dapat diterangkan bahwa pada kehamilan pertama pembentukan blocking antibodies terhadap antigen placenta tidak sempurna, yang semakin sempurna pada kehamilan berikutnya. Fierlie FM (1992) mendapatkan beberapa data yang men-dukung adanya sistem imun pada penderita PE-E:
    1. Beberapa wanita dengan PE-E mempunyai komplek imun dalam serum.
    2. Beberapa studi juga mendapatkan adanya aktivasi sistem komplemen pada PE-E diikuti dengan proteinuri.
    Stirat (1986) menyimpulkan meskipun ada beberapa pen-dapat menyebutkan bahwa sistem imun humoral dan aktivasi komplemen terjadi pada PE-E, tetapi tidak ada bukti bahwa sistem imunologi bisa menyebabkan PE-E.
  3. Peran Faktor Genetik/Familial
    Beberapa bukti yang menunjukkan peran faktor genetik pada kejadian PE-E antara lain:

    1. Preeklampsia hanya terjadi pada manusia.
    2. Terdapatnya kecendrungan meningkatnya frekwensi PE-E pada anak-anak dari ibu yang menderita PE-E.
    3. Kecendrungan meningkatnya frekwensi PE-E pada anak dan cucu ibu hamil dengan riwayat PE-E dan bukan pada ipar mereka.
    4. Peran Renin-Angiotensin-Aldosteron System (RAAS)

Sumber:

Ansar DM, Simanjuntak P, Handaya, Sjahid Sofjan. Panduan pengelolaan hipertensi dalam kehamilan di Indonesia. Satgas gestosis POGI, Ujung Pandang, 1985; C: 12-20.
Wibisono B. Kematian perinatal pada preeklampsia-eklampsia. Fak. Ked. Undip Semarang, 1997; 6-12.

Indikasi Rujukan Preeklampsia

Pada dasarnya penderita preeklampsia-eklampsia yang harus dirujuk ke rumah sakit dengan fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan adalah:

1. Semua penderita preeklampsia berat-eklampsia

Kriteria preeklampsia berat adalah apabila pada kehamilan > 20 minggu didapatkan satu/ lebih gejala/tanda di bawah ini:

  1. Tekanan darah > 160/110 dengan syarat diukur dalam keadaan relaksasi (pengukuran minimal setelah istirahat 10 menit) dan tidak dalam keadaan his
  2. Proteinuria > 5 g/24 jam atau 4+ pada pemeriksaan secara kuantitatif
  3. Oliguria, produksi urine < 500 cc/24 jam yang disertai kenaikan kreatinin plasma
  4. Gangguan visus dan serebral
  5. Nyeri epigastrium/hipokondrium kanan
  6. Edema paru dan sianosis
  7. Gangguan pertumbuhan janin intrauteri
  8. Adanya Hellp Syndrome (hemolysis, Elevated liver enzyme, Low Platelet count)

2. Penderita hipertensi dalam kehamilan dengan penyakit dasar kardiovaskuler, renovaskuler, atau metabolik

3. Penderita hipertensi dalam kehamilan dengan penyulit obstetrik

Kegiatan rujukan penderita preeklampsia berat-eklampsia dapat dibagi dalam beberapa tahapan, yaitu:

1. Tahap pengobatan pendahuluan

2. Tahap transportasi penderita

3. Tahap pengobatan lanjutan

4. Tahap merujuk balik

Sumber:

Cermin Dunia Kedokteran No. 139 2003 17: Penanganan Pendahuluan Prarujukan Penderita Preeklampsia Berat dan Eklampsia – John Rambulangi, Bagian Obstetri dan Ginekologi Fak. Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar

Penanganan Preeklampsia Berat dan Eklampsia – Ketut Sudhaberata, UPF. Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan, RSU Tarakan Kalimantan Timur